Deal2an kita dengan Karaeng Joni cukup simple. Berangkat pagi ini, pulang besok. Waktu tempuh one way Labuanbajo-Kelimutu lebih kurang 12 jam hahaha. Emang agak ambisius, tapi kita flexibelkan kalau memang harus nginep 2 hari ya nginep 2 hari. Di mana? Nggak tau. Kita percaya sama Karaeng Joni untuk urusan semuanya. Kita hanya bayar, dia nyetirin ke Kelimutu naik innova, nganter kita kemana-mana dan bawa kita balik dengan selamat.

Sedikit background tentang Karaeng Joni. Dia sebenarnya orang Makassar, tapi milih hidup di Labuanbajo sebgai driver untuk nganter tamu/wisatawan. Karaeng itu katanya panggilan orang bajo, seperti Mas atau Abang. Gayanya yang rockstar dan kalem membuat dia menjadi dambaan kita.

Perjalanan 3 hari 2 malam ini akan gw rangkum seminim mungkin.

Pagi itu cerah. Perjalanan melewati bukit-bukit, jalan lika-liku, dan Karaeng Joni ngebut dengan kecepatan yang cukup luar biasa. Jalannya sih bagus, nggak seperti ekspektasi gw. Gw sih nggak mabokan kalau naik mobil. Mungkin karena udah biasa jalan ke solok, bukittingi, dan padang panjang, yang tipe jalannya persis seperti ini. Judis dan Hasbi yang duduk di belakang udah mulai diam. Hasbi mulai tidur karena gw tau dia pasti teler dengan goyangan si mobil.

GOPR1763.JPG

Kata Karaeng Joni, rute ini merupakan trek balap untuk mobil angkut ikan. Hasil nelayan dari Labuanbajo di pagi hari langsung diantar ke Ruteng, Ende, Kelimutu dan kota lainnya di tengah pulau. Mobil carry pickup dengan knalpot racing, dulu-duluan siapa yang nyampe ke pasar2 di kota itu. Karena kalau nyampe duluan, orang pasar akan langsung beli dan nilai jual lebih tinggi karena masih segar. Yang dateng belakangan kena resiko ikan yang dibawa malah nggak laku. Karaeng Joni aja udah ngebut 80km/jam di jalan yang belok-belok, mobil ikan ini lebih serem lagi. Sumpah ngeri.

Mungkin ini juga yang namanya hoki karena sebelum kita berangkat ke bajo, ramalan cuaca untuk seminggu itu bakal hujan. Hari-hari sebelumnya yang kita habisin di pantai dan laut malah nggak hujan sama sekali. Cuma di perjalanan ke Kelimutu ini yang hujan, dan kita juga dalam mobil. Jadi kita nggak complain. Satu hal yang menarik dari perjalanan ini adalah seringnya kita berhenti di jalan karena longsor. 3 kali!!!  Berhenti 1 sampai 2 jam karena nungguin longsor yang dibersihin traktor.

GOPR1794.JPG
Parkir nungguin longsor. Truk semua.

Perjalanan 12 jam ini bener2 melelahkan. Gw yang duduk doang udah capek, apalagi Karaeng Joni yang nyetir dan harus fokus. Gw juga bangun terus dan ngajak dia ngobrol sebagai co-driver. Biar dia nggak ngantuk, dan gw nggak mau masuk berita lokal karena apa2 hahaha.

Kita berhenti di banyak tempat. Nggak tau di mana, tiba-tiba Karaeng Joni banting stir dan bilang, “Di sini ada lalalala terkenal untuk lalalalanya. Bisa liat2 dan foto.” Kita sih yes2 aja. Kita berhenti di pusat kota Ruteng untuk makan siang, di pematang sawah yang mirip jaring laba-laba, di puncak bukit, di danau tengah hutan dan di tempat pembuatan minuman arak tradisional ‘sopi’ dari Labuanbajo.

IMG_1174.JPG
Salah satu viewpoint di perjalan ke Kelimutu ngeliat laut selatan.
img_1172
Spider’s web

Jam 10 malam kita nyampe di penginapan sebelum ke Kelimutu. Penginapan 2 bed dengan kamar mandi tanpa pintu. Kalau ada yang eek, kita keluar karena takut mati terkena baunya. Anginnya kenceng, dan dinginnya juga mantap menusuk ke tulang. Selimutan nggak pernah senikmat ini.  Gw lupa nama daerahnya apa, tapi dari sini ke Kelimutu tinggal 30 menit naik mobil, dan sisanya trekking sampai Danau Kelimutu.

Jam 2 pagi kita bangun dan berangkat ke atas biar bisa liat sunrise. Di pos masuk ternyata sudah ada beberapa turis yang pengen liat sunrise juga. Dari sana nyetir dikit lagi sampai tempat parkir mobil, dan sisanya trekking di kegelapan. Nggak sampai 1 jam untuk nyampe puncak Danau Kelimutu. Kita juga sempat ngobrol dengan ibu2 yang bawa kopi/mie untuk jualan di atas. Kuat banget ibu2 ini, subuh2 dengan beban di atas kepala untuk nyari duit. Salut.

Kita sampai di puncak masih dalam kegelapan. Danau belum ada yang keliatan. Lagi-lagi kita sangat beruntung karena turis saat itu lagi sepi. Seinget gw nggak sampai 15 orang. Kata si bapak2 yang jualan, biasanya sih tempat ini penuh banget. Mungkin bukan musim rame2nya.

Gw sampe beli kopi 2x karena udara yang enak. Angin yang dingin perlahan-lahan menjadi sejuk dengan terbitnya matahari. Sayangnya sunrise ketutupan awan, jadi mataharinya keliatan 1 jam setelah mulai terang.

G0521968.JPG
Sunrise ketutup awan

Danau Kelimutu ini terkenal dengan warnanya yang berganti2 nggak tentu. Terkadang merah, putih, hijau, biru, hitam. Giliran kita? Biru semua hahahaasuuuu… yaudahlah. 3 danau ini juga punya nama masing-masing lengkap dengan legendanya. Silahkan digugel.

DCIM101GOPRO
Danau yang satunya lagi

Monyet2 juga mulai bermunculan dari lembah2 yang menarik perhatian semua orang. Ya mereka gitu2 doang, nongkrong di atas dahan sambil garuk2 biji. Tapi lucu aja liatnya.

G0592072.JPG
Bule motoin monyet

Sisa dari trip ini hanya perjalanan pulang menuju Labuanbajo. Sebelum siang kita udah jalan dari Kelimutu. Kita sempat berhenti di salah satu desa di pelosok sana yang bernama desa bena. Kita diajak ngobrol dengan 2 orang kakek yang bikin kita ketakutan. “Ayo mas ke sini dulu. Kita nggak apa2 kok. Nggak ngapa2in. Ayo mampir dulu”, dengan nada setengah maksa dan logat orang NTT. Mereka jualan rempah2 dan barang2 tradisional hasil orang kampung ini dan kita ditawarin untuk beli. Yang konyol itu si kakek2 ini satunya udah mulai tuli, pikun dan sepertinya ada gangguan penglihatan, dan yang satunya lagi neriakan terus dengan nada setengah marah ke si kakek tuli ini hahaha. Kayak nonton adegan film yang konyol. Kita juga dibilangin orang cina karena kulitnya agak putih, dibandingin mereka sih. Mau ketawa tapi takut karena serasa dipalakin. Kita nggak beli apa2 sih akhirnya.

IMG_1187.JPG
Masuk ke kampung bena
IMG_1190.JPG
Tempat nyimpen padi
IMG_1188.JPG
The jancukers di kampung bena
G0842377.JPG
Kampung bena tersusun rapi dengan atap jeraminya

Kita nggak jadi mampir ke pemandian air panas karena udah malam dan rumah museum tempat pengasingan Presiden Soekarno karena lagi tutup. Kita juga nginap satu malam lagi di Ruteng biar pulangnya santai nggak buru-buru amat. Lagi-lagi angin malam yang sejuk bikin asoy selimutan nongkrong di depan kamar. Beuuhhh…

Kita dianter makan malam di rumah makan padang karena gw bilang ke Karaeng Joni kalau gw orang padang. Si Uda yang jualan juga kaget kalau ada pelanggan yang datang ngomong bahasa minang. Gw sempat ngobrol 5 menit sama si Uda sampai komentar, “Jauah pai manggaleh ko yo da? Hahaha”. Dia juga bingung kenapa bisa2nya dia sampai hidup di sini.

Bahkan kita sempat berhenti di jalan mampir ke rumah temennya Karaeng Joni magrib2. Berhenti 45 menit untuk ngobrol dan dibuatin kopi biar istirahat nggak pegel. Emang luar biasa ini jalan sama Karaeng Joni.

Besok paginya langsung tancap gas menuju bandara Labuanbajo, karena penerbangan kita jam 3an. Kita langsung dianter ke bandara untuk berpisah dengan Karaeng Joni. U de bezz lah pokoke Karaeng. Sangat sedih ninggalin Labuanbajo, dan itu juga dengan masih banyaknya spot yang nggak dikunjungin. Next time lah, I’ll be back!