Kalau di padang, gw punya sebuah kipas angin tepat di samping tempat tidur gw. Padang emang udah panas dari sananya, dan kebetulan juga kamar gw ga punya ventilasi sama sekali, kecuali lubang-lubang kecil yang mengarah ke ruang makan/dapur. Ini juga udaranya ga segar-segar amat, karena biasanya asep-asep masakan Bunda masuk ke kamar gw. Jadinya punya sebuah kipas angin, dan menyalakannya setiap saat merupakan sesuatu yang wajib buat gw.

Tadi sore, gw tiduran di tempat tidur sambil ngelakuin hobi aneh gw, natepin langit-langit kamar. Biasalah. Namanya juga udah sarjana. Harus mulai memikirkan hal-hal yang besar seperti mandi besar, anu besar dan buang air besar.

Kipas angin menghembuskan angin dengan syahdunya. Telapak kaki tepat di depan kipas angin. Kepala diganjel sama bantal. Jadinya seluruh permukaan tubuh gw kena sejuknya hembusan angin di sore yang panas. “Ohhh, ini toh yang namanya angin surga.”, ucap gw sambil senyum-senyum tak jelas.

Tapi tiba-tiba, penyakit bersin-bersinan gw kambuh. Gw secara refleks bersin tanpa ada daya dan upaya untuk menahannya, yang bikin kepala dan badan gw keangkat setengah duduk. Semburan bersin dari mulut+hidung keluar dengan kecepatan tinggi supersonik dan bertabrakan dengan hembusan si angin surga pada kecepatan hypersonik.

Sesuai dengan ilmu yang udah gw peroleh dari Om Newton, kekuatan hembusan angin surga melebihi kekuatan semburan bersin. Otomatis si masbro bersin berbalik arah 180 derajat mengikuti aliran angin surga. Daaaaaannn…..

GGGYYYUUUUURRRRRRRR!!!!!! Seketika menabrak wajah gw. Telak.

“HHhhhhmmmm, nikmatnya. Ini ya yang namanya hujan dari surga. Bau, lengket dan menjijikkan.”

#Langsung lari ke kamar mandi