Tak terhitung sudah jumlah pick gitar yang gw beli semenjak gw di bandung. Dengan harga yang lumayan mahal (2000 rupiah) untuk sebuah plastik yang warna-warni, gw masih tetap beli demi kebutuhan jasmani dan rohani gw sebagai pemain gitar. Saking keselnya dengan harga yang hanya 2000 rupiah, kadang-kadang gw sampai bikin pick manual, dari tutup botol aqua, atau kadang motongin botol menyerupai pick. Walaupun bentuknya jelek, tapi close enough lah.

Pagi ini, salah satu pick gw tewas lagi. Pick putih itu mungkin juga bukan punya gw, tapi udah ada di kamar semenjak zaman peperangan yunani. Si pick memang udah kritis kondisinya; setengah retak. Ibaratnya kena leukimia, tinggal menunggu ajal aja. Barusan lagi asik-asiknya nyanyiin lagu Science & Faith by The Script, tiba-tiba JDEEERRR!!! *Efek burung-burung beterbangan dari balik pohon… Pick patah jadi dua keping. FFffuufuufufufuuu..

Yah… Apa daya lah. Karena kisah cinta antara pick dan gw selalu berakhir cepat, kalau ga terkikis abis, patah, atau hilang raib entah kemana, terakhir beli gw langsung beli 2 extra, siap-siap mental buat worst case scenario ini.

Dan inilah. One down. Two to go. Don’t die too soon on me now, pick.