Kemaren sore,gw ama Didit kepengen ber-juggling-freestlyle-soccer-ria. Bertempatkan di basecamp abadi kita (rumah imus), gw ama Didit udah datang nungguin Imus yang menipu kita. Kita kirain dia lagi di rumah karena dia bilang bisa juggling di rumahnya. Ternyata waktu datang, dia ga ada, jadi kita ngobrol-ngobrol dulu ama Papa, Mama dan Om-om temennya Papa Imus. Niat awalnya sih juggling, tapi kita jadinya ngobrol kaya bapak-bapak aja, ngomongin ITB, nazaruddin, tiket pesawat, sampai anak gadis cantik karate DAN5 yang mandaram (menghantam) guru lelakinya yang genit abis naroh anu tidak pada tempatnya.

Kita juga ngehubungin semua anak-anak untuk ikut nongkrong. Yudhi yang lagi di bukittinggi, Frezi yang juga di bukittinggi (entah ngapain ini orang, secara kampungnya di padang), Boker yang tak pernah bales sms/bbm, Aid yang katanya bakal datang langsung dari mato aia, dan Nado dari taruko. Karena rumahnya Imus udah hampir di perbatasan kota, dan rumahnya Aid dan Nado juga di ujung kota bagian sononya, gw tadinya kasian liat mereka. Pake motor aja 40menitan. Tapi karena lagian mungkin mereka ga ada kerjaan, kita suruh dateng aja.

Aid dateng jam 17.30an. Nado lebih epic lagi. Nyampe rumah imus jam 18.30 kurang dikit. Cacat dikit. Dengan stelan pemain bola, Nado hanya datang untuk numpang buka puasa di rumah Imus. Hhaha. Setelah susah-susah nolak ajakan Mamanya Imus, ujung-ujungnya kita buka dan sekalian makan malam di situ. Awalnya kita pengen makan di jalanan (kayak gembel), tapi karena si Mama kekeuh beudh, jadinya kita ga enak juga, karena lauk udah dimasakin, nasi udah disediaiin, dan ayam udah bertelor. Walaupun tadinya malu-malu, tapi ternyata kita makan banyak karena masakan Mamanya Imus super seperti biasa (karena keseringan numpang makan di sini nih). Kenyang lah ujung-ujungnya.

Abis itu, kita berlima pergi jalan-jalan keliling kota Padang tanpa tujuan tertentu. Niatnya sih kepengen jadi anak gaul Padang. Balap-balapan, minum bir, get high… tapi nggak. Kita mah minum fanta aja udah teler, 70 km/jam udah nangis, asep rokok bikin batuk-batuk. So, kita ke taplau (tepi laut) aja karena di sini emang tempat anak-anak gaul Padang nongkrong. Berawal dari rasa penasaran denger ceritanya Aid, tentang level kebinalan kota Padang di bulan Ramadhan ini. Kalau siang, jalanan isinya cewek-cewek kerudungan semua. Kalau malam, cewek-cewek cantik cap binal berkeliaran di mana-mana. So, kita ke taplau untuk membuktikan.

Sesampai di taplau, ternyata dunia menjadi lebih indah. Lihat ke langit, kembang api dimana-mana. Lihat sekeliling banyak cewek-cewek seksi. Wew. Rame banget. Banyak yang buka dagangan, mulai dari warung nasi, pakaian, tempat gaul dan dagang sate. Jalanan dihiasi dengan lampu hijau, merah, biru, putih dan semua saudaranya. Serasa di toko lampu. Taplau udah menjadi tempat wisata malam di bulan puasa. Taraweh mah kayaknya udah ga jaman lagi buat beberapa kaum gaul anak Padang. Ckck. Agak miris aja karena di sela-sela letusan kembang api, masih terdengar lantunan suara Imam solat taraweh di mesjid-mesjid terdekat.

Yang terunik dari tempat ini adalah banyaknya payung-payung yang tertancap di pinggir pantai, yang disediain ama orang-orang sana. Dan banyak orang yang lagi kencan duaan di bawah payung. Yang tigaan juga ada–>> (Maho/Lesbi/Bisexual detected). Waduh. Nah ini dia gw ga tau orang ngapain di sana, karena definisi ‘kencan’ pasti berbeda bagi semua orang. Ada yang lagi ehem-ehem, ada yang lagi ayeah-ayeah, dan mungkin ada yang uh beibeh. Kayaknya seru banget…

Cewek-cewek cantik bertebaran dimana-mana. Ibuk-ibuk juga banyak. Mereka pada TP di sini. Unjuk kecantikan dan kebinalan. Sampai-sampai ada mbak-mbak yang centil lewat dekat kita dan bilang,

Mbak kerudungan binal : Numpang lewat ciek yo diak! (Numpang lewat ya dek!)
Kita bareng-bareng : Iyoo Niiii…. (Iya Mbak)

Padahal kita lebih kurang seumuran loh, si Mbaknya juga cantik loh dengan nice-class fashion yang up-to-date, tapi sikapnya kayak gitu; ngomong dan jalan dengan gaya centil yang mengundang Aid untuk melepas celana dan pipis ke pantai. Aneh banget. Yang kayak gini adanya di Padang doang. So, come here if you wanna see some.

Setelah bergaul di pantai, kita lapar lagi, dan pergi makan ke Ranah Amor. Lumayanlah buat ngisi perut sebelum pulang. Si Aid dan Nado sangat amat kasian karena udah sampai di pusat kota, tapi harus balik lagi ke rumahnya Didit karena motor mereka ditinggal di sana. Hha.

Gw nyampe rumah masih sempet-sempet aja makan duren satu lagi yang belum diapa-apain. Belah duren dengan birahi luar binasa, lalu tidur untuk mimpi indah yang menanti.