Warning - content might be too long for casual reading, but I don’t give a shit
Beberapa waktu yang lalu gw pulang ke padang lagi. Kali ini ceritanya karena Ayah yang udah 7 tahun menempuh program pendidikan S3 akan melakukan sidang terbuka. Benar. 7 Tahun bro! Mengerikan. 7 tahun waktu yang telah dihabiskan oleh bapak gw untuk menyelesaikan kuliah. Padahal Ayah lebih duluan ngambil pendidikan itu dibanding gw mulai S1, tapi malahan gw yang tamat duluan. Gw memang pinter dari sananya sih. Setelah gw wisuda gw selalu manas-manasin Ayah, “Masa sama anak sendiri kalah”, ” S3 susah banget apa?”, “Gitu doang lama…”. Law of the universe #1, kalau lu lebih hebat maka sombongkanlah. #salahprinsip
Dalam penerbangan lagi-lagi gw dapet duduk di sebelah pintu darurat. Duduk disini selalu bikin gw parno. Gw merasa seakan-akan harus menjadi superhero menarik pintu darurat dan mencabik-cabik dinding pesawat apabila shit goes down. Tapi highlight dari penerbangan kali ini adalah sekelompok bapak-ibu yang bikin rusuh buat nyari tempat duduk. Mereka yang serombongan ngotot ingin duduk di tempat duduk masing-masing sesuai dengan yang tertera pada tiket dengan nama mereka. Padahal mereka kan barengan, kalau duduknya ngacak tapi masih kursi yang punya mereka secara keseluruhan ya ga masalah. Kemacetan terjadi di dalam kabin pesawat karena mereka masih mondar-mandir di kabin.
“Ibu duduk dulu aja ya, biar penumpang yang lain bisa jalan ke belakang”, kata si mbak pramugari. Lanjut membaca


